Prabowo Bakal Bangun Tanggul Laut Raksasa 700KM di Utara Jawa

Prabowo Bakal Bangun Tanggul Laut Raksasa 700KM di Utara Jawa

February 7, 2025 3:23:00 pm, Produced By: Budi Wahyu

Tanggul Laut Raksasa Prabowo Subianto Hashim Djojohadikusumo Giant Sea Wall

Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, telah memutuskan untuk membangun tanggul laut raksasa sepanjang 700 kilometer yang membentang dari Banten hingga Jawa Timur. Proyek ambisius ini bertujuan untuk melindungi kawasan pesisir, terutama lahan pertanian yang vital di sepanjang pantai utara Jawa (Pantura), dari ancaman kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim.

Keputusan ini diumumkan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo. Ia menekankan bahwa inisiatif ini merupakan langkah penting dalam mengatasi dampak lingkungan nyata yang sudah mempengaruhi masyarakat pesisir. Kenaikan permukaan air laut menimbulkan risiko signifikan terhadap sawah-sawah produktif di Pantura, wilayah yang menjadi lumbung pangan nasional. Potensi tenggelamnya lahan-lahan ini dapat berdampak parah pada ketahanan pangan negara.

Menurut Hashim, konsep pembangunan tanggul laut untuk melindungi garis pantai Jawa bukanlah hal baru. Ide ini pertama kali dieksplorasi pada tahun 1994 di era Orde Baru, ketika ancaman kenaikan permukaan air laut mulai diperhitungkan. Namun, terlepas dari studi awal, proyek tersebut tidak pernah terwujud1. “Tidak pernah terlambat untuk berkomitmen melindungi jutaan hektare lahan sawah yang paling produktif dan subur di pesisir utara Jawa,” kata Hashim.

Hashim memperkirakan bahwa pembangunan tanggul laut akan memakan waktu sekitar 10 hingga 20 tahun untuk diselesaikan. Ia juga menekankan bahwa membangun lumbung pangan (food estate) di Kalimantan atau Papua tidak akan efektif jika jutaan hektare sawah di Jawa terendam oleh kenaikan air laut. Hashim mengajak masyarakat untuk mendukung proyek ini.

Sebelumnya, Presiden Prabowo telah menginstruksikan jajarannya untuk mengkaji pembangunan tanggul laut raksasa dari Jakarta hingga Cirebon sebagai bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) 2025. Pembangunannya diperkirakan akan dimulai pada tahun 2025. Proyek ini akan terhubung dengan tanggul pengendali banjir dan rob yang sudah ada di Tambaklorok, Semarang.

Meskipun tanggul laut telah digunakan untuk perlindungan pantai selama ribuan tahun, efektivitasnya dalam memerangi perubahan iklim masih menjadi perdebatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pembangunan struktur masif semacam itu dapat menghasilkan emisi karbon yang besar, yang berpotensi memperburuk masalah yang ingin diatasi.

Terlepas dari tantangan ini, para pendukung proyek berpendapat bahwa tanggul laut adalah tindakan yang diperlukan untuk melindungi lahan pertanian dan masyarakat pesisir Indonesia yang berharga.

Alternatif untuk tanggul laut, seperti memulihkan dan melestarikan ekosistem pesisir seperti hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, juga telah diusulkan sebagai solusi yang efektif dan lebih berkelanjutan untuk perlindungan pantai. Penghalang alami ini dapat membantu menyerap energi gelombang dan mencegah erosi, sekaligus menyediakan habitat yang berharga bagi kehidupan laut.